TASAWUF; spiritualitas Islam klasik

•October 18, 2006 • Leave a Comment

Dewasa ini tasawuf menjadi wacana yang marak dibicarakan, tidak hanya sebatas pada peneliti muslim, orientalis bahkan masyarakat awam pun turut mempelajarinya. Mereka semua memang membutuhkan sesuatu yang bisa memuaskan akal budinya, menentramkan jiwanya yang pada masa ini terbelenggu berbagai kecenderungan materialisme modern. Maka diharapkan kiranya tasawuf akan mampu mengembalikan makna riil maupun hakekat kemanusiannya dengan sungguhan kesyahduan elusan spiritual.

 

Asal usul tasawuf

Etimologi: Silang pendapat terjadi dikalangan pemikiran Islam dan para sejarawan muslim tentang hakekat asal-usul kata tasawuf atau sufi. Diantara sekian banyak pendapat mereka akan asal-usul kata tasawuf antara lain adalah:

a.Shuhafah yang berarti sayur yang layu.

b.Shufah yang mereka artikan rambut yang tumbuh bergumul dibagian belakang kepala

c.Shafwun yang berarti bening

d.Shaf yang artinya barisan. Karena mereka beranggapan para sufi berada pada barisan pertama dihadapan Allah. Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa kata tersebut dinisbatkan pada Ahlus Shuffah; sekelompok kaum muhajirin dan Anshar yang miskin yang tinggal dalam sebuah ruangan disisi masjid Rasulullah saw.

Namun dari hasil kajian ilmiah membuktikan bahwa semua pendapat diatas kurang tepat. Yang lebih tepat kata tasawuf atau sufi berasal dari shuf atau bulu domba. Karena pada masa awal perkembangan asketisisme, pakaian bulu domba adalah simbol para hamba Allah yang tulus dan asketis. Para sufi banyak yang meng-amini definisi tersebut, diantaranya al-Sarraj al-Thusi dalam karyanya al-Luma’. Pendapat ini dikokohkan oleh Ibnu Khaldun dan lain-lainnya seperti Abu Nu’im, Ibnu al-Jauzy, as-Suhrawardi, al-Ghazali, Ibnu Taimiyah dan al-Kalabazy.

Terminologi: Tentang pengertian (ta’rif istilahi) tasawuf juga terdapat perbedaan. Malahan terkadang perbedaan ini membawa kepada hal yang cukup membingungkan. Sebab utama ialah situasi seorang sufi yang ditinjau dari sosio-kultur dan fisio-kultur yang selalu berubah, ini seperti yang diasumsikan oleh as-Sufi Ibnu Waghithi.

Dari sekian banyak pendapat yang mengatakan tasawuf berarti zuhud atau asketisisme, ada pula yang mengatakan tasawuf berarti akhlak, kesucian, mujahadah, dan sebagainya. Padahal kesemua yang disebutkan hanyalah sebagai salah satu aspek dari adanya tasawuf itu sendiri. Dan pada akhirnya dapat kita ambil ta’rif alternatif yang jami’ mani’, yaitu ta’rif yang dikemukakan oleh Grand Syaikh al-Azhar Syaikh Abdul Halim Mahmud. Beliau mengambil konsklusi bahwa terminologi daripada tasawuf adalah shafa dan musyahadah. Pertama, shafa yaitu mencakup nilai-nilai pensucian ruh (jiwa) yang mana ia merupakan pemberian dari al-Haq Allah swt. Dan kesemuanya mencakup segala aspek etika dan hal-hal yang menyangkut dengan masalah spiritualitas dan ibadah. Zuhud, mujahadah serta ikhlas mengharapkan ridha Allah swt. Kedua, musyahadah, mencakup seluruh situasi ruh dan nilai-nilai yang membedakan sufi dengan ragam ma’rifah pengetahuan yang mereka miliki dengan jalan pensucian hati.

 

Karakteristik umum tasawuf

Tasawuf secara umum adalah falsafah hidup dan cara tertentu dalam tingkah laku manusia, dalam upaya merealisasikan kesempurnaan moral, pemahaman tentang hakekat realitas, dan kebahagiaan ruhaniah. Serta pada dasarnya pengalamaan para sufi itu adalah sama. Perbedaan diantara mereka hanyalah karena ketidaksamaan interpretasi atas pengalaman hidup, karena pengaruh kebudayaan dimasa sang sufi atau mistikus tersebut berafiliasi.

Dalam kitab madhâl ila tasawuf al-Islâmy, R.M Bucke mengkategorikan karakteristik tasawuf ketujuh betuk: Pancaran diri subjektif, peningkatan moral, kecemerlangan intelektual, perasaan hidup kekal, hilangnya perasaan takut mati, hilangnya perasaan dosa dan ketiba-tibaan. Namun ciri-ciri yang diutarakan R.M Bucke tersebut kurang lengkap, sebab masih banyak ciri-ciri lain yang tidak kalah penting. Misalnya, perasaan tentram. keikhlasan jiwa, perasaan fana penuh alam realitas, dan lain-lain.

Dalam kitab yang sama, Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazany memaparkan ciri-ciri tasawuf yang lebih mengena. Beliau mengatakan, tasawuf pada umumnya memiliki lima ciri yang bersifat psikis, moral, dan epistimologis. Kelima ciri tersebut ialah:

1.      Peningkatan moral

Setiap tasawuf memiliki nilai-nilai moral tertentu yang tujuannya untuk membersihkan jiwa sebagai perealisasian nilai-nilai itu. Dengan sendirinya hal ini memerlukan latihan-latihan fisik-psikis tersendiri serta pengekangan diri dari materialisme duniawi dan lain-lain.

2.      Pemenuhan fana (sirna) dalam realitas mutlak.

Inilah ciri khas tasawuf dalam pengertiannya yang sungguh terkaji. Yang dimaksud fana ialah latihan-latihan fisik serta psikis yang ditempuhnya, akhirnya seorang sufi sampai pada kondisi psikis tertentu, dimana dia tidak lagi merasakan adanya dirinya ataupun keakuannya. Bahkan ia merasa kekal abadi dalam realitas yang tertinggi. Menurut sufi Islam, realitas mutlak ini adalah Allah swt. Sedang menurut mistikus Kristen, ia adalah logos. Kalau sufi Hindu, ia adalah brahma.

3.      Pengetahuan intuitif langsung

ini adalah norma terkaji epistimologis, yang membedakan tasawuf dari falsafah. Apabila dengan filsafah, yang mana memahami realitas seseorang mempergunakan metode-metode intelektual, maka ia disebut seorang filosof. Sementara kalau dia berkeyakinan atau terdapatnya metode yang lain bagi pemahaman hakekat realitas dibalik persepsi indrawi dan penalaran intelektual yang disebut dengan kasyaf atau intuisi, maka dalam kondisi begini dia disebut sebagai seorang sufi.

4.      Ketentraman atau kebahagiaan

Ini merupakan karekteristik terkhusus pada semua bentuk tasawuf. Sebab tasawuf diniatkan sebagai petunjuk atau pengendali berbagai dorongan hawa nafsu, serta membangkitkan keseimbangan psikis pada diri seorang sufi. Dengan sendirinya, membuat sang sufi tersebut terbebas dari semua rasa takut dan merasa intens dalam ketentraman jiwa, serta kebahagiaan dirinya pun terwujudkan.

5.      Penggunaan simbol dalam ungkapan-ungkapan

Yang dimaksud dengan penggunaan simbol ialah bahwa ungkapan-ungkapan yang dipergunakan para sufi biasanya mengandung dua pengertian. Pertama, pengertian yang ditimba dari harfiah kata-kata. Kedua, pengertian yang ditimba dari analisa serta pendalaman. Pengertian yang kedua ini  hampir sepenuhnya tertutup bagi yang bukan sufi, dan sulit baginya untuk dapat memahami maksud tujuan ucapan seorang sufi. Sebab tasawuf adalah kondisi-kondisi efektif yang khusus yang mustahil dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dan iapun bukan merupakan kondisi yang sama pada setiap orang. Setiap sufi punya cara tersendiri dalam mengungkapkan kondisi-kondisi yang dialaminya.

 

Re-aktualisasi tasawuf; manisfestasi kehidupan spiritualitas.

Rahibisme atau dalam istilah Islam tasawuf (sufisme) sejak awal pertumbuhannya belum ditemukan defenisi yang akurat dan komprehensif yang mencakup seluruh versi dan visi dari ajaran ini. Sementara itu sufisme sendiri sering diidentikkan dengan orang-orang yang hanya menghabiskan seluruh usianya hanya untuk beribadah kepada Allah swt semata, hidup mengisolir dari masyarakat dan percaturan dunia, mengharamkan usaha, mencari harta dan segala yang berbau materi dengan berbagai macam atribut lahiriah seperti janggut, jubah dan tasbih.

Pandangan yang parsial dan cenderung subjektif diatas masih sering mempengaruhi jalan pikiran sebagian umat Islam tradisional khususnya, yang semua itu telah mengakibatkan mereka terkebelakangkan hampir dalam segala bidang. Karenanya diperlukan suatu revisi dan re-interpretasi eksistensi tasawuf, agar tidak terjadi kerancuan yang pada akhirnya menyudutkan sufisme kepada posisi yang sempit dengan sudut pandang yang amat picik.

Dalam kehidupan tasawuf akan kita jumpai adanya dua aspek dasar yang merupakan sisi-sisi fundamental dari ajaran ini. Pertama, Aspek pembinaan moralitas (akhlak) dan pencapaian ketinggian budi pekerti. Kedua, Aspek pemusatan perhatian kearah norma-norma ukhrawi (ibadah) ketimbang hal-hal yyang bersifat duniawi, atau dalam istilah kaum sufi dikenal dengan “zuhud”.

Hal ini dapat kita simpulkan dari perkataan ulama-ulama sufi tentang tasawuf itu sendiri. Antara lain: Ibnu Qayyim dalam bukunya madariju as-Salikin menggatakan, “Tasawuf dalam Islam adalah pengetahuan tentang akhlak-akhlak diniyah”. Abu Muhammad al-Jariri berucap, “Tasawuf adalah masuk kedalam akhlak-akhlak yang dianjurkan dan keluar dari seluruh akhlak yang tercela”. Sementara dilain pihak ada juga yang mengartikan tasawuf dari aspek juhudi, ini diungkapkan oleh Sahal bin Abdillah at-Tusturi, “Tasawuf adalah mengurangi makan dan menetap/mengarah pada Allah swt serta berpaling dari manusia”.

Jadi, mereka yang hanya memandang sufisme dari satu aspek -juhudi- saja, akan mengakibatkan seseorang bersikap cenderung subjektif dalam memahami sufisme. Kembali DR. Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazany menegaskan bahwa, “Sufisme bukanlah lari dari kenyataan hidup, akan tetapi ia adalah suatu usaha memperisai serta mempersenjatai diri dengan norma-norma kerohanian, guna membantu seseorang dalam menghadapi kehidupan yang serba materil ini”.

Terlepas dari sinyalemen diatas, kita tentu sepakat bahwa akhlak –dalam ruang lingkup yang seluas-luasnya- adalah dasar (asas). Ia merupakan washilah paling penting dalam interaksi seseorang dengan masyarakatnya, serta merupakan perantara bagi pencapaian tujuannya, yaitu peningkatan potensi keimanan dan ketakwaan kepada yang Maha Pencipta. Hal ini dapat diciptakan dengan menempatkan gerak akal dibawah bimbingan agama, dan menepatkan gerak amarah (syahwat) dibawah bimbingan akal dan agama.

Dari sini tasawuf dengan ajarannya yang murni yang merupakan proses pembinaan stabilitas moral dan budi pekerti dengan segala aktivitas kepada Allah swt perlu direaktualisasikan dalam kehidupan modern kita sekarang ini. Karena bagaimanapun kehidupan materil tidak bisa dijadikan skala prioritas (patokan) terhadap kebahagiaan seseorang, dengan melupakan nilai-nilai spiritual yang justru merupakan kebutuhan hidup yang paling essensial.

Adalah sebuah ungkapan yang benar bahwa “Api harus dipadamkan dengan air, kejahatan harus diatasi dengan kebaikan”, begitupun pula kehidupan material harus diimbangi dengan kehidupan spiritual.

 

**Tulisan ini dimuat di buletin Risalah News IKPA Kairo bulan Oktober 2006

Tuk My Beloved Ading (Iffah dan Muhaimin)

•October 18, 2006 • Leave a Comment

Disaat relung hati bersatu dengan gemuruh seribu hasrat yang menggelora di hembus sepoi sepoi angin impian dan harapan, dia berusaha setelah mendapatkan kembali ghiroh/ semangat untuk mengapai seribu satu cita dan cinta di ardu kinana ini, dimana dia berusaha memposisikan keadaan dia dengan mengkondisonalkan di negeri para nabi ini, Setelah bersistirahat sejenak guna merefleksikan harapan dan impian seorang bapak dan ibu yg selalu mendoakan anaknya nan jauh disini

Dia mempunyai 2 orang adik yang sangatlah dia sayangi dan cintai, satu bernama Muzliffah dan satunya bernama Muhaimin, dimana dengan keberadaan kedua adiknya ini dia merasakan sesuatu yang sangat dia damba-dambakan, saat ini lamunan serta hanyalannya terkadang terbang menemui kedua adiknya, meskipun perjumpaannya dulu hanya terbatasi dengan jumlah waktu, jam, menit, ataupun detik, tetapi dia tetap merasakan sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupannya.

Dua buah tali yang terikat kemudian direntangkan menjauh merupakan simbol kebersamaan yang tidak dibatasi jarak.dan itulah yang dirasakan seorang kakak akan rasa rindunya untuk lebih saling mengenal kedua adiknya. Sehingga sang kakak sering diketuk pintu hatinya dengan ketukan-ketukan rindu dan kangen atas apa yang telah dia temukan dalam kebersamaan sebelumnya.

Muzliffah itulah nama adiknya yang perempuan, dia merupakan gadis berparas ayu dan lembut. Ketika lahir suara adzan dan iqamah dikumandangkan lewat telinganya, dan tiupan-tiupan relegius dan kalimat tauhid telah bersemayam di dalam jiwanya yang suci itu, saat itu ia tidak mengetahui tendensi apa-apa atas nama yang diberika orang tuanya

Iffah begitulah adiknya sering dia panggil. Bukanlah type gadis yang pemalu, matanya tak selalau menyapa lantai kalau berpapasan, mukanya jarang memerah bila dipuji, tanganya tak biasa mempermainkan sapu tangan bila salah tingkah atau menjadikan air mata sebagai lambang penyelesaian masalah. Saat ini kemampuan progresif daya nalarnya telah mulai membentuk jiwanya, dimana dia mulai memahami akan esensi nama yang dia sandang yaitu iffah yang mempunyai arti selalu menjauhi kemaksiatan. “Subhanallah..!! sungguh indah nama yang diberikan orang tuaku”, ucap iffah.

Saat ini iffah lagi merenungi akan kronologi kehidupannya dari fase ke fase , dia suntuk dalam renungan panjangnya yang jiwanya terhimpit oleh desakan-desakan semunya. Semilir angin memainkan rambutnya yang kini semakin panjang, tapi tak sepanjang angan yang dia terbangkan keangkasa guna mencapai harapan tertingginya. Karena iffah tahu kehidupan ini bukanlah sebuah angan-angan fatamorgana belaka yang terjadi hanya dalam hitungan satu hari saja, tapi dia beranggapan banyak hari yang mesti dilalui dan sebanyak itu pula peristiwa yang mesti ditemuinya. dari hal yang membuat senang, gembira tertawa juga hal yang mungkin yang membuat dia diam, sedih dan menangis . esok lusa siapa yang tahu, untuk sementara dia hanya bisa meraba dan mencoba untuk mereka apa yang akan yang terlahir dari kedua itu, karena itu semua merupaka suatu yang implisif baginya, dalam kehidupan ini.

Cinta, itulah yang dulu pernah dia temui. Hiasan keindahan, gemerlap yang merupakan out put dari sebuah cinta telah ia rasakan, kepada hati dan jiwanya dia tuangkan air penyejuk dari gelas cinta, mungkin dia sangat berharap dari penyebar cinta yang semu itu, tapi. Hidup adalah perjuangan yang mempunyai stagnasi up and down yang tidak diketahui kapan itu terjadi, saat ini ataukah besok?. Ternyata man processes and god disposes telah mengetuk pintu hati jiwa iffah, dimana segala angan, cita dan cintanya kepada sesuatu yang semu itu telah mengiris perasaannya yang sangatlah sensitif. Dia bimbang dan bingung ketika cinta semunya telah berpaling ke lain hati, dia tetap tidak habis mengerti, mencintai tapi tidak pernah dicintai, padahal janji telah diyakini, rembulan mana yang tidak pernah mereka alami, merah jingga sore mana yang tak mereka rasakan. Dan kini sebagian kanvas kehidupannya yang pernah ia warnai dengan warna-warna indah telah pupus hapus hangus dibawa terbang angin-angin kehidupan yang penuh misteri.

Iffah merasa dirinya telah termakan implisif dunia ini, ia menilai dirinya telah termasuk orang yang tamazzug as-syahsiah, maka sejurus kemudian ia berkata kepada kakaknya, “Kak saat ini panggil adik dengan “iffah”. Mulai saat itulah iffah berpikir untuk menformat sebuah other form of union untuk dirinya, dengan sebuah kata lillâh sebagai starting pointnya.

Ditopang dengan jiwa adventurnya yg suka mendaki dan menjelajahi sisi alam kehidupan, maka dengan perlahan iffah mendaki kembali bukit kehidupan dengan berbekal ransel yang dia isi dengan sebuah jiwa yang baru. Dibukit itu tidak dia menyangka akan menemuka sesuatu yang menarik mintanya untuk memasukinya, dengan sebuah niatan bismillah dia memasuki sebuah gua. Tak disangka-sangka dia melihat sesuatu yang menajubkan mata hatinya yaitu sebuah rembulan yang sarat akan kata beutifuly, maka seketika itu juga terlepas sebuah kata dari bibir mungil miliknya nawaitu lillâh.

Iffah, gadis itu kini telah berubah, dengan sebuah kain yang dia tata rapi guna memenuhi syariat yang berlaku baginya dan bagi saudari-saudarinya. Dengan keinginan, harapan dan penyerahan diri kepadan Raja yang memiliki jiwanya, Iffah memulai start dari sebuah muara relegius yang nantinya dia berharap akan aliran air dzikir dan fikir membawa dia menemui keindahan dari Sang Maha indah yang memberi keindahan dan yang menyukai keindahan.

Sebagai seorang gadis yang berjilbab, iffah memang sedikti edialis, inipula yang membuat dia sering tampil beda, sehingga ia sering mendapatkan beberapa aplaus dari para penggemarnya baik melalui daya pikirnya atau dari karunia yang dia terima dari Sang Maha Pengasih yang melengkapinya dengan paras yang cukup cantik, tutur kata yang lemah lembut, mempunyai kepribadian yang mengagumkan, mempunyai sifat mothernitas dan konon dari bisik-bisik orang dia termasuk perempuan yang supel dalam artian bisa mengkondisionalkan dirinya dengan sikon, sehingga sepertinya selain teman-temannya, dan tentunya orang tuanya juga sangat menyanyanginya.

Dari pemikirannya, iffah sangat menyadari dan menghargai perbedaan, ia benci dokrinitas dan sangat menghargai sebuah proses, baginya dokrinitas hanyalah format lain dari pemerkosaan kebebasan berpikir. Sikap ini yang mungkin menyebabkan ia terlambat untuk memakai jilbab dibanding teman-temannya. Jilbab menurutnya bukan hanya model, trend, budaya apalagi hanya ikut-ikutan. Jilbab bagi iffah adalah adalah simbol loyalitas sebenarnya. Namun ia belum bisa membahasakan sikap para muslimah sejati dalam kesehariannya. Menurutnya jilbab merupakan manifestasi firman Allah “innany mina al-muslimûn”, namun begitu ia tetap bermanis muka kepada temannya yang bernama an-Nisa’ yang belum berjilbab, walaupun sudah berkali kali ia ajak. “Bagaimanapun ini adalah soal hidayah”, ucap batin iffah. Karena itu tak perlu kita apriori.

Iffah mulai menemukan pengganti cinta semunya yang berpaling darinya. Saat ini rasa cintanya tumpah pada Sang kekasih, memacu semangat dan tawajuhnya kepada Ilahi Raby. Iffah sangat rindu akan kasih sayang-Nya yang telah lama ia harap-harapkan. Saat ini berbagai upaya telah ia lakukan dengan segala curahan hatinya untuk selalu bertaqarrub kepada sang kekasih pujaan hatinya yaitu Sang pemilik cinta sejati. Teringat sebuah bait lagu dari album yang iffah hadiahkan kepada kakaknya “Utamakan cinta kepada-Nya, terjagalah amalan kita, binalah selalu cinta ilahi. Hidup kita kan bahagia”

Saat itu teringat kembali pesan dari kakaknya “tentukan dilimit manakah nilai iffah akan adik letakkan, seringlah berusaha masuk dalam keheningan jiwa adik, jika tawajuh ataupun jiwa adik terganggu dan terguncang, berusahalah medapatkan nilai keheningan jiwa adik, keheningan itu bukan dipegunungan tapi berada dalam keyakinan adik. Dan gunakanlah keheningan jiwa adik untuk mendapatkan peran keterposisian adik”.

Dengan harapan dan keinginan yang berlipat ganda seorang iffah berusaha untuk dapat memanifestasikan nama yang dia sandang saat ini untuk selalu dapat me-iffah-kan dirinya dalam kehidupannya dengan menengadahkan kedua telapak tanganya untuk sebuah mardhotillah

Selain Syarifah. Dia juga sangat menyayangi adiknya yang laki-laki, dan sepertinya kecintaan terhadap adik laki-lakinya ini melebihi kecintaan terhadap syarifah. Adiknya yang laki-laki ini bernama Muhaimin, adiknya yang satu ini sangatlah menyanyangi kakaknya begitupun juga sebaliknya kakaknya sangat, sangat dan sangat sayang dan cinta kepadanya. Dia bagaikan mutiara bagi keseharian dalam kehidupan kakaknya, karena melalui kebersamaan bersamanya selalu membuat kakaknya bahagia, gembira dan tertawa riang, seakan-akan rasa sedih, manangis selalu takut akan keberadaan muhaimin disamping kakaknya, sehingga hanyalah gelak tawa, canda dan kehormanisan yang sering mereka mainkan berdua dalam corak indahnya kebersamaan.

Etimologi dari kata muhaimin adalah penjaga, dan itu merupakan salah satu dari asma’-Nya, dan mungkin dari sana timbul inisiatif dari orang tuanya untuk memberi penghargaan kepada muhaimin dengan sebuah nama yang dimiliki juga oleh Sang Muhaimin. Dimana setiap orang tua pastilah menginginkan kebaikan selalu mengiringi derap langkah putra-putrinya, meskipun dengan sebuah overlapping of interest.

Muhaimin merupakan sosok anak kecil yang periang, yang suka membuat orang tertawa terpingkal-pingkal, meskipun ia bukan merupakan member dari grup madihin ibu kota, ia masih lugu dan masih suka terhadap sesuatu yang berbau baru menurut akal pikirannya. Maklumlah, seorang anak kecil pastilah merasakan kehidupan ini hanya matâ’u ad-dunya yang dihiasi pernik-pernik senda gurau dan permainan belaka.

Rambut boleh hitam tapi pikiran tetap berbeda, begitulah penilaian kakaknya terhadap adiknya yang satu ini, dimana kakaknya sering dibuat pusing tujuh keliling dikarenakan lontaran pertanyaan dari seorang anak kecil yang masih berumur 6 tahun. Teringat kembali pertanyaan yang ditawarkan Muhaimin kepada kakaknya, “Kak.surga itu tempatnya dimana?, kalau tempatnya diatas, kenapa Allah menaruhnya diatas? Dan kenapa kalau wudhu membasuhnya harus tiga kali?. Tidak hanya sebatas itu yang hendak diketahui oleh seorang muhaimin. Masih banyak soal-soal yang ia todongkan, yang mana harus dijawab oleh kakaknya yang tentunya jawabannya harus suitable dengan rasio anak kecil pada masa itu.

Saat itulah kakaknya mulai menilai apa yang terjadi dalam diri adiknya adalah suatu kelebihan dari Sang Penjaga, yang mana kakaknya beropini bahwasanya adiknya ini memiliki karunia yang terkadang tidak dimiliki oleh sebagian teman-teman mainnya.

Suatu saat sang kakak pernah menjanjikan untuk membelikan muhaimin snack pini wini piti. Dikarenakan kesenangan yang dialami kakaknya sehingga sang kakak lupa akan sebuah pini wini piti untuk adik tercintanya. Lalau bertanyalah muhaimin kepada kakaknya. Kak mana pini wini pitinya? Teringat kakaknya, ternyata untuk menjadi penjaga amanat sangatlah berat. Karena itu, akibat yang diterima kakaknya, muhaimin tidak mau berbicara kepada kakaknya alias dongkol, ngambek, kesel dan marah dengan janji palsu dari seorang kakak yang ia cintai. Dengan balasan yang diterimanya dari orang yang amat dia sayangi dan cintai. Sang kakak merasakan kesedihan akibat kealpaannya dalam menjaga amanat. Sikap adiknya itulah membuat sang kakak melakukan munajah an-Nafsi, lalau keluarlah sebuah self comitment untuk dirinya sendiri. “Ternyata hanya dengan kealpaan yang bentuknya kecil kepada seorang anak kecil yang masih belum tahu apa itu makna dosa, khilaf dan lupa, balasan yang dia terima sudahlah sangat mengganggu ketenangan jiwanya, bagaimana jika dia sering melakukan kealpaan dalam kadar jumlah yang banyak dan besar, dan objek kesalahan dia adalah kepada Pencipta kealpaan yang tidak pernah alpa dalam mengawasi?”.

Tak disangka dan diduga keluarlah kata alhamdulilllah dari lisan seorang kakak akan keberadaan dirinya yang memiliki kedua adik yang dapat menjadi mediator pemberi pencerahan diri baginya, sang kakak ini ingin sekali mengkalaborasikan nama kedua adiknya ini dalam megarungi jembatan kehidupan ini, yaitu dengan berbekal niatan iffah sang kakak berharap seorang Muhaimin dapat menjaganya dari “para musuh yang nyata” baginya. Guna pensucian diri menuju altar kebahagian dunia akhirat

Percakapan Ahmadinejad bag.2

•October 8, 2006 • 1 Comment

Ini merupakan sambungan wawancara sebelumnya. Silahkan menikmati…

MAN: Bukankah sesuai kesepakatan program ini akan berlanjut hingga
akhir?

MW: Benar tuan. Saya masih punya satu wawancara lagi yang harus dilakukan. Tuan Presiden! Bush berkata bahwa ia tidak akan mengizinkan Iran membuat senjata nuklir. Apakah Anda mempercayai ucapannya?

MAN: Pada prinsipnya, program nuklir kami tidak mengarah pada pembuatan senjata. Apa yang kami pikirkan sekarang adalah bahwa berbicara dengan bom, atom dan semacamnya sudah berakhir masanya. Problem yang dimiliki oleh Bush adalah ia ingin menyelesaikan segalanya dengan bom. Kekuatannya juga semata-mata dari reaktor nuklir dan persenjataan militernya. Periode itu sudah berlalu. Saat ini adalah periode intelektual dan budaya. Kita harus mencintai masyarakat dunia. Semua manusia adalah baik. Semua manusia terhormat. Semua memiliki hak untuk hidup dalam kondisi damai, tenang dan sejahtera.Tujuan kami bukan senjata. Namun, bila Bush berpikir bahwa dapat menghambat kemajuan kami, perlu saya katakan bahwa ia tidak akan mampu. Berdasarkan undang-undang mana ia berhak berbicara seperti itu? Kami menginginkan teknologi nuklir dan bahan bakarnya kami sendiri yang memproduksinya. Apakah Anda tidak berpikir bahwa masalah masa depan adalah energi? Kami beranggapan bahwa tim Bush dan kelompok yang
melindunginya berkeinginan untuk menguasai semua energi dunia. Dengan demikian seenaknya saja mereka menekan setiap negara yang membutuhkannya. Tentunya tanpa melupakan bahwa mereka juga akan menebalkan kantongnya sendiri. Aktivitas nuklir kami untuk perdamaian dan IAEA juga mengiyakan hal itu. IAEA tidak menemukan penyimpangan dalam program nuklir Iran. Sekarang saya yang ingin bertanya kepada Anda, seorang yang telah memakai bom atom dan sekarang juga punya sekian bom atom di gudang penyimpanan dapatkah ia menjadi pembela perdamaian? Periode penggunaan ungkapan seperti itu telah usai. Menurut saya, cara berpikir Bush harus dirubah. Berikan dia kaca mata lain untuk memandang dunia. Ia harus mencuci matanya. Dan tidak lupa
untuk lebih mencinta masyarakat dunia. Jangan hanya terpusat memikirkan uang dan kekuatan.

MW: Salah seorang rekan Anda memberikan catatan. Apa yang tertulis di dalamnya?

MAN: Tertulis, `Perbaiki jas Anda!

MW: Mengapa mereka mengkhawatirkan jas Anda? Jas Anda bagus dan terlihat rapi.

MAN: Benar. Mereka juga mengucapkan hal itu.

MW: Rekan-rekan Anda sebelum wawancara ini telah merapikan jas Anda. Apakah Anda termasuk orang yang mementingkan tampilan lahiriah?

MAN: Pada kondisi-kondisi tertentu, iya. Dan dengan alasan ini kami menyisir rambut kami.

MW: Saya sempat berkata bahwa DK PBB, Anda punya banyak kritikan terhadap mereka, telah mengeluarkan resolusi yang meminta kepada Iran untuk menghentikan pengayaan uranium. Dan pengayaan itu harus berhenti pada tanggal 31 Agustus. Apakah Anda akan melaksanakan keputusan tersebut?

MAN: Sebagian jawaban dari pertanyaan Anda telah saya jawab. Untuk keputusan DK PBB itu akan kami jawab beberapa waktu ke depan.

MW: Artinya, kesempatan menyampaikan berita itu tidak akan Anda sampaikan kepada kami selaku media yang akan menuliskannya dalam headline kami.

MAN: Tidak perlu. Hemat saya, para wartawan selain menjadikan kabarnya sebagai headline hendaknya berpihak kepada hakikat dan kebenaran dan itu harus disebarluaskan. Anda seharusnya perwakilan rakyat dan bukan agen pemerintah atau sebagian kelompok politik.

MW: Seandainya Anda tidak mengenal saya sejak sebelumnya, Anda tentu tidak akan menerima saya mewawancarai Anda. Saya percaya bahwa Anda meyakini bahwa saya adalah wartawan yang jujur.

MAN: Saya menyampaikan itu bukan kepada Anda tetapi kepada media secara umum.

MW: Dengan demikian, Anda tidak akan menjawab pertanyaan saya sebelumnya. Apakah saya seorang wartawan yang terhormat?

MAN: Aneh! Sesuai kesepatakan, saya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda seperti yang Anda inginkan? Anda seorang wartawan yang terhormat. Pada prinsipnya, kami menghormati orang yang lebih tua. Apalagi bila orang tersebut sudah berumur di atas 80 tahun dan akan pensiun dari kerjanya.

MW: Tuan, apakah saya harus pensiun?

MAN: Tidak! Kami secara resmi tidak mengenal pensiun. Senantiasa seorang harus berusaha. Namun tentunya, istirahat adalah sebuah keharusan juga.

MW: Tuan, kegiatan Anda di waktu-waktu senggang apa saja?

MAN: Saya punya banyak kerjaan yang bisa dilakukan. Membaca, olah raga, menyertai keluarga dan banyak lagi kerjaan lain.

MW: Tuan, Anda punya tiga orang anak dan kelihatannya Anda sudah tua.

MAN: Anda sudah mengetahui hal ini.

MW: Anda setuju bahwa Anda sudah tua.

MAN: Anda lupa. Kami tidak menjadikan hal-hal yang Anda ucapkan sebagai tanda-tanda ketuaan.

MW: Anda benar. Anda memiliki kepribadian yang khas dan menarik.

MAN: Dan saat ini sedang berusaha untuk mengetahui lebih banyak. Akan tetapi menurut saya Anda tidak akan mengenal saya hanya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

MW: Tuan, pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang Anda sukai untuk saya tanyakan?

MAN: Jangan tanyakan kepada saya. Saya hanya bercanda. Silahkan sampaikan pertanyaan-pertanyaan Anda.

MW: Apa yang ingin Anda katakan kepada rakyat Amerika?

MAN: Rakyat Amerika atau pemerintah Amerika?

MW: Kedua-duanya Tuan.

MAN: Kepada pemerintah dan para petingginya telah saya tulis surat. Sayangnya saya tidak mendapatkan jawabannya.

MW: Tuan, ada 18 halaman.

MAN: Benar. Pada akhirnya banyak kejadian-kejadian penting yang terjadi di dunia. Dan sangat alami ketika seorang presiden dengan presiden negara lain membicarakan masalah dunia pasti banyak yang dibicarakan.

MW: Menurut Anda, mengapa Bush tidak membalas surat Anda?

MAN: Ini bisa langsung Anda tanyakan kepadanya.

MW: Bush mengatakan bahwa surat Anda hanya untuk menarik opini publik.

MAN: Tidak ada alasan untuk menarik opini publik.

MW: Apa yang Anda harapkan setelah Anda melayangkan surat itu?

MAN: Saya berharap agar Bush merubah sikapnya. Saya ingin membuka sebuah jendela baru untuknya dan dengan itu ia dapat melihat dunia dalam bentuk yang lain. Dengan jendela itu ia dapat mencintai masyarakat dunia. Ia dapat berdialog dengan masyarakat Timur Tengah
dengan cara lain. Dari pada membela secara membabi buta dan fanatik kepada rezim Zionis, Amerika dapat memulai untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan masyarakat kawasan Timur Tengah. Bush bisa berbicara tanpa harus berbohong.

MW: Tuan! Orang-orang mengatakan bahwa cintailah masyarakat. Ucapan ini sangatlah sederhana dan mudah. Namun Anda sendiri membenci terhadap sebagian orang seperti contohnya orang-orang Israel.

MAN: Kami tidak punya masalah kebencian dengan pribadi-pribadi.

MW: Setidak-tidaknya Anda punya kebencian kepada sebagian petinggi Israel.

MAN: Kami berpendapat bahwa kami membenci perbuatan jahat. Kami mengatakan bahwa membunuh masyarakat sipil adalah kejahatan. Membuat masyarakat menjadi pengungsi adalah tindakan kejahatan. Dan menjajah sebuah negara adalah perbuatan jahat.

MW: Tuan! Izinkan saya bertanya yang lain. Apa yang dilakukan Hizbullah? Hizbullah juga membuat masyarakat menjadi pengungsi. Mereka telah mengakibatkan kerugian. Mereka juga membunuh dan melukai masyarakat.

MAN: Kami tidak rela dengan terjadinya perang. Namun dalam piagam PBB hak untuk membela diri diterima secara resmi. Apakah pasukan Lebanon di tanah penjajah ataukah pasukan penjajah di tanah Lebanon? Lebanon sedang membela kemerdekaan tanah airnya. Kami tidak gembira dengan
terjadinya perang. Dengan alasan inilah kami sejak hari pertama perang kami telah mengutuk sikap itu dan meminta agar segera terjadi gencatan senjata. Gencatan senjata. Masalah yang ada bisa diselesaikan dengan dialog.

MW: Siapa yang tidak menginginkan gencatan senjata?

MAN: Kelihatannya Anda tidak membaca koran.

MW: Baiklah. Anda beritahu saya.

MAN: Siapa yang menolak keputusan gencatan senjata di PBB? Pemerintah Amerika dan Inggris.

MW: Menurut hemat Anda, mengapa mereka menolak gencatan senjata?

MAN: Lebih dikarenakan cara berpikir mereka. Mereka berkhayal bahwa harus melindungi rezim Zionis. Mereka berpikiran bahwa rezim ini dalam kondisi yang lebih baik dan kuat dan gencatan senjata tidak menguntungkan mereka. Setiap orang yang mencintai masyarakat tidak
akan rela bahkan bila seorang terbunuh. Dengan alasan inilah usulan kami untuk mencarikan solusi bagi masalah Palestina adalah usulan yang sangat manusiawi. Saya tidak tahu, mengapa Amerika dan Inggris menolak usulan seperti ini.

MW: Apakah Imam Khomeini memberikan kunci-kunci surga kepada anak-anak muda berumur 12, 13 dan14 tahun dengan syarat dalam perang Iran dan Irak mereka harus menyiapkan dirinya untuk meledakkan ranjau-ranjau sehingga dapat menahan laju serangan pasukan Irak? Anwar Sadat sendiri juga sempat berkata bahwa Imam Khomeini tidak mengucapkan kata-kata yang baik.

MAN: Ucapan Anwar Sadat bukan sebagai tolok ukur apakah ucapan seorang benar atau salah. Soal yang penting di sini adalah siapa-siapa saja yang membantu Saddam untuk mengagresi Iran?

MW: Amerika.

MAN: … Anda menginginkan agar para pemuda Iran tidak membela negaranya? Orang-orang Iran adalah manusia-manusia pemberani. Sekalipun tidak pernah sekalipun negara-negara tetangganya…

MW: … Pertanyaan saya tadi bukan ini.

MAN: Kesepakatan kita adalah Anda perlu bersabar. Saya sudah mendengarkan secara keseluruhan pertanyaan Anda dan Anda akan menerima jawabannya. Saddam menyerang negara kami. Sejak 200 tahun negara kami tidak menyerang negara tetangganya. Dan pada saat itu kami tengah membangun kembali negara kami setelah kemenangan revolusi. Anda berharap para pemuda Iran tidak membela negaranya sendiri? Saat ini, bila ada masalah terjadi di Amerika bagaimana Anda menyemangati pemuda-pemuda Anda untuk membela negaranya? Kita tidak boleh
mengobok-obok pengertian-pengertian kudus dan menariknya dalam permainan politik. Kami berkeyakinan bahwa setiap orang yang meninggal karena membela kehormatan, agama dan negaranya akan ditempatkan disurga. Dan Tuhan juga mencintai orang-orang yan g semacam ini. Bila tidak ada kecintaan untuk membela negara tidak akan ada perbatasan antara negara yang bakal bertahan.

MW: Dikabarkan kepada saya lewat rekan-rekan Anda agar Anda menyudahiwawancara ini. Namun bukankah Anda telah berjanji akan menerima seluruh pertanyaan saya.

MAN: Mungkin saja Anda punya pertanyaan sampai 5 jam. Namun saya tidak seperti Anda yang tidak punya pekerjaan.

MW: Tapi wawancara ini sangat penting.

MAN: Benar. Anda-Anda yang sangat penting!!!

bersambung…